Support Habis Kampanye : Stop Setrum, Racun, Bom Ikan..!

spanduk-wwi-copy Support Habis Kampanye :  Stop Setrum, Racun, Bom Ikan..!

Pada waktu yang terus berjalan, pagi yang tenang, langit yang mendung. Dibacanya lembar hitam itu. Pelan. Huruf demi huruf. Kata demi kata. Baris demi baris. Pelan-pelan sekali. Seolah takut ada yang terlewatkan. Seringkali mataku kembali pada bagian-bagian tertentu. Untuk benar-benar memahami. Atau sekedar mengulangi kalimat yang ku suka. Semua yang tertulis disana begitu khas sekali dengan penulisnya. Michael Risdianto/ Mike. Sederhana dan langsung pada intinya. Iman orang itu terhadap alam begitu luar biasa.

Ya, beliau itu mengajariku secara tidak langsung tentang banyak hal yang terlewatkan oleh orang kebanyakan. Untuk selalu memiliki sudut pandang baru. Seperti apa yang telah beliau katakan; SMALL THING CAN MAKE BIG DIFFERENCE. Kita tak bisa melihat gunung, lautan secara utuh dari sisi yang sama. Untuk selalu terbuka pada ide-ide baru. Untuk selalu melihat bahwa ada setiap alasan untuk setiap kejadian. Bahwa ada kebenaran diluar pengetahuan.

spanduk-wwi-copy
Michael Risdianto dengan gagasan mulianya, Wild Water Indonesia (WWI): Stop Setrum, Racun, Bom Ikan adalah pernyataan paling keras pertama yang beliau lakukan sebagai pemancing dalam rangka untuk lebih peduli, dan tidak mengejar kesenangan semata. Beliau menjelaskan bahwa spanduk-spanduk ini juga bukan tentang ambisi pragmatis sarat interests personal dan kelompok. This is environmental campaign. 'Keuntungannya' adalah satu, dua atau tiga orang yang mungkin ikut tergerak untuk concern dengan pesan yang disampaikan. Dan Banten Wild Fishing (BWF) menjadi salah satu tim yang ikut serta mendukung, mengkampanyekan aksi positif ini disela-sela trip mancing.
Pagi itu. Disebuah dermaga tempat biasa kami mempersiapkan fishing trip. Sepanduk panjang pertama darinya kami bentangkan, dengan tulisan besar dan jelas dengan warna dominan merah putih. Saya tergugu menjamahi huruf-huruf yang saya kenal selama ini. Kata-kata itu. Gambar-gambar. Bahasanya. Semua masih sama. Semua masih seperti apa yang saya lihat di dunia maya. Saya tersenyum. Alangkah beruntungnya saya & teman-teman. Beliau banyak mengenal orang-orang hebat. Yang mengajarinya banyak hal hebat. Dan saya senang juga bisa mengenal beliau yang sedikit banyak memberikan masukan, contoh yang baik mengenali alam. Ya, bukankah kehidupan adalah sebuah kampus mahabesar? Hmmm... Saya kembali tersenyum kecil. Lalu membentangkan sepanduk itu bersama teman-teman mancing.
Pada awalnya teman-teman bertanya-tanya dengan saya; sepanduk apalagi yang ku bawa. Bertemakan apa sepanduk itu. Saya terharu. Semua yang ikut trip mancing waktu itu saya & teman-teman lainnya (Amee Rependi, Adam, Evitri, Alfin, Jon Robi, Eka, Medi, Eki, Ibnu, Kimizan) antusias banget mendukung aksi-aksi positif ini.

Terlihat dengan obrolan-obrolan kecil mereka di dermaga tentang kondisi alam. Tentang laut, sungai dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang sedikit menceritakan kondisi spot ini saat manusia-manusia serakah memporak-porandakannya dengan cara yang mengerikan. Bom, racun, setrum. Ya, dengan cara itulah mereka mencari ikan. Dengan pemikiran yang tidak mengindahkan bahaya/ dampak dari tindakan tersebut, tidak ada rasa penyesalan bahkan cenderung bangga dengan hasil tangkapannya yang melimpah tapi tidak memperdulikan ekosistem didalamnya yang kian memprihatinkan.
Maka dari itu, saya mengajak teman-teman Banten Wild Fishing untuk ikut andil dalam menjaga kelestarian alam, terutama untuk ekosistem perairan Banten. Bukan hanya laut, tapi untuk sungai-sungai disekitarnya.
Dalam memancing, kami, Banten Wild Fishing, komunitas kecil ini mempunyai aturan sendiri saat mancing. Salah satunya dengan merelease ikan yang sekiranya belum cukup pantas untuk meja makan kami. Itu pun kami hanya mengambil secukupnya & hanya ikan-ikan yang tidak dilarang/ langka. Merelease spesies tertentu yang termasuk dalam kategori ikan langka dan dilindungi (besar/ kecil) adalah suatu kewajiban. Kami tidak munafik, dalam memancing memang tidak semua ikan direlease kembali. Ada faktor tertentu yang mengakibatkan ikan tidak direlease; seperti ikan sudah sangat parah terkena kail pancing, lure masuk ke mulut ikan paling dalam dan ikan jika dilepas lagi prosentase hidupnya sangat kecil.

14606453_10205483516806799_2037108181374857379_n

Sepertinya kalau membahas release merelease ikan tidak akan ada habisnya disini. Yang perlu kita sikapi adalah bagaimana mewujudkan ekosistem perairan kita kedepannya bisa semaikin baik. Kontribusi apapun, sesederhana apapun tindakannya, setidaknya bisa membuat mata hati kita terbuka. Bahwa hal-hal kecil yang berkaitan dengan keberlangsungan ekosistem perairan kita memang butuh lebih diperhatikan lagi. Paling tidak masih ada harapan untuk nanti, anak cucu kita agar bisa merasakan, menikmati ke-Agungan Tuhan yang kita pelihara dengan baik.
Kembali ke fishing trip. Setelah sejenak ‘berkampaye’ WWI kami begegas menurunkan keperluan yang akan dibawa untuk menusuri spot. Jukung pun melaju. 10 menit kemudian, kami yang belum sampai ke titik spot tiba-tiba cuaca berubah. Hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan kami. Harap-harap cemas sambil berdoa agar diberikan keselamatan & kemudahan saat mancing. Memang, dalam memancing kita perlu banyak ‘panduan’ agar saat mancing bisa enjoy & lebih bisa dinikmati. Tapi, semua adalah kuasa Tuhan.

 

Prediksi/ ramalan cuaca meleset jauh dari apa yang kita harapkan saat itu. Pagi sampai siang hujan. Kondisi air pun berubah. Sampai di spot pun, air masih tak kunjung membaik.
Memancing ditingkat kejernihan air yang rendah memang tidaklah mudah. Apalagi saat itu kami semua sehabis diguyur hujan, badan kedinginan, kondisi fisik juga menurun drastis. Tingkat optimis juga melemah dibandingkan rasa pesimis kami. Lalu, apakah harus menyerah? Tidak. Kami tetap memancing. Berbagai umpan palsu pun dipilih dan dicoba satu per satu. Dan pada akhirnya parade strike pun dimulai. Umpan-umpan palsu kami ternyata masih bisa mengelabuhi spesies penghuni pinggiran muara & karang-karang dangkal.
Saya menarik kesimpulan bahwa, masih adanya strike disaat air yang hampir membuat kami putus asa ini, walaupun sambaran tidak seganas saat air jernih, menandakan kondisi perairan di ujung Banten ini masih cukup baik jika dibandingkan beberapa tahun silam. Sudah tidak adanya penangkapan ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan membuat perairan ini sedikit demi sedikit terpulihkan. Alam menyediakan, kita hanya tinggal menjaga dan merawatnya dengan baik supaya tetap lestari. ***Lilik Gus  Ananta

Comments

comments

Comments are closed.