Menyusuri Sungai Cisadane

Ini adalah kisah bagaimana tim Berita Mancing Menyusuri Sungai Cisadane

Memancing di sungai bagi sebagian pancinger di tanah air merupakan sebuah kenikmatan tersendiri, terutama bagi mereka yang tidak bisa kelaut atau bermain di empang berbayar karena suatu alasan, artinya memancing di manapun bisa mendapatkan kepuasan batin tersendiri bagi para pelakunya, baik itu di danau, kolam, laut bahkan di sungai dan selokan. kali ini Berita Mancing bersama dengan kawan kawan pancinger dari daerah  bogor coba membuat trip ringan menyusuri sungai cisadane yang membentang dari hulunya di gunung gede Pangrango sukabumi melewati kota Tangerang sampai muaranya di daerah Tanjung Burung dengan bentang sepanjang 126km.

Bersama Maruli, Apuh, Hendra, Bangkit, Cepot, Vommy, mang betok dan mang pepen kami coba mengumpulkan informasi tentang titik titik sungai yang bisa kami eksplorasi kekayaan potensi mancingnya, akhirnya informasi mengerucut ke sebuah desa bernama ciomas yang kebetulan di lalui oleh sungai Cisadane, menurut informasi di desa ini masih banyak ikan sungai yang kerap mejadi hiburan memancing bagi warga sekitar. ikan yang masih banyak di dapati ialah ikan Soro, Kancra, Hampala, Sidat, lelawak, Genggehek, nilam, berot, arelot, lele dan banyak lagi, informasi tambahan juga bahwa di daerah ini sudah tidak lagi ada praktek tuba dan racun, namun untuk stroom masih ada meski cuma menggunakan ACU mobil.

Senangnya kalau pergi mancing dengan kawan kawan ini adalah saat persiapan, mereka yang mancing dari berbagai macam aliran tehnik mancing tapi addict di sungai ini masing masing mempersiapkan kebutuhannya sebelum berangkat, sebagian pergi ke sungai sungai kecil di malam hari dalam udara yang cukup dingin, mereka mencari umpan jenis ketam atau kepiting sungai untuk umpan dasaran, ada juga yang mengumpulkan laron, cacing dan macam macam umpan untuk dasaran, yang tehnik casting lebih santai, mereka hanya melakukan setting alat seperti pasang benang PE dan Leader, pasang snap, memilih umpan umpan buatan yang akan di bawa esok. semuanya sibuk dan asik.

Menjelang subuh semua sudah bangun, sholat subuh berjamaah, menyeruput kopi panas di temani pisang goreng, terasa sekali keakraban para pancinger di kawasan gadok puncak ini, sang empunya rumah Maruli dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai basecamp para pancinger dan aktivis pelindung sungai dari mana saja, ia dan keluarganya tidak pernah merasa keberatan atau terganggu dengan aktivitas kami selama di sana.

Seperti biasa, dengan menggunakan motor kami berboncengan beriringan menuju lokasi, kecepatan di atur tidak boleh lebih dari 60Km/jam dan harus berurutan sesuai barisan awal, Maruli berboncengan dengan Apuh menjadi leader, saya bersama Vommy mengekor leader, paling belakang Bangkit sendiri dengan motornya yang besar, untuk memastikan barisan rapi dan tidak ada yang tertinggal. satu jam saja perjalanan santai kami sudah tiba di sebuah desa di tepian sungai cisadane, desa ciomas namanya, dari ketinggian terlihat desa yang begitu hijau ini begitu tenang, asri dn tentram meski sebagian besar masyarakatnya hanya hidup dengan bertani.

Mang Eman dengan ikan genggehek

Mang Deni sahabat kami di kampung tersebut sudah berdiri di gapura kampung, dia menyambut kedatangan kami dengan wajah akrab, ramah dan santun seperti khasnya orang orang desa di bumi nusantara ini, ia mempersilhakan kami untuk singgah dan parkir motor di rumahnya, namun kami menolak untuk minum kopi dan camilan pagi dari mang deni karena sudah kebelet pingin mancing, Rupanya mang Deni tidak bisa menemani kami mancing hari ini karena baru saja mengalami musibah duka, Ibunya baru saja meninggal dunia beberapa hari lalu, kami pun mengucapkan bela sungkawa dan memaklumi keadaan beliau. segera kami beranjak ke sungai yang letaknya cuma 100 mtr saja dari kediaman mang deni, kami pun mencari titik masing masing, spot untuk pemancing dasaran dan pemancing casting tentunya beda. Mang Pepen dan kawan kawan jeblukers ( sebutan kami buat para pemancing dasaran ini) sudah mendapat lokasi Favoritenya, dan kami para Castinger menyusuri sungai mencari titik potensi.

Sebuah jembatan yang dibangun untuk lalulintas Kereta api rute Bogor-Sukabumi dan sebaliknya yang juga di gunakan masyarakat untuk menyebrang membentang tinggi sekitar 15meter di atas sungai cisadane yang perkasa ini, kami tepat di bawahnya, tempat dimana bebatuan besar menghampar memecah derasnya arus sungai yang jarang sekali bening airnya ini, mungkin karena banyaknya aktivitas di hulu ditambah curah hujan yang tinggi membuat sungai ini jarang sekali dalam kondisi bening, kembali ke jalur cerita' kamipun menggunakan umpan umpan kesayangan untuk menggoda predator yang menghuni arus deras disini, entah Hampala atau Kancra, apapun hasilnya nanti kami serahkan kepada nasip dan yang maha mengatur nasip. terjadi beberapa sambaran dan strike sampai akhirnya matahri menjadi terik sekali, kamipun menepi ke tempat yang teduh sambil istirahat.

Ikan senggal banyak di CIsadane

Dalam istirahat kami di tepi sungai yang sejuk ini, melintas lah seorang bapak berbaju kuning membawa joran panjang, tampak ia begitu lincah melompati bebatuan di tengah sungai, persis seperti tupai yang melompat dari dahan ke dahan, lalu ia berhenti di sebuah batu besar, di hadapanya terbentang arus dan bukaan sungai yang cukup lebar. lalu Joran yang panjang sekitar 2,5 mtr itu ia ayunkan pertanda ia sedang melempar umpan ke arah arus, lalu dengan teliti ia memperhatikan pelampung yang besarnya tidak lebih besar dari cabe rawit pentil tersebut mengalir terbawa arus, lalu ia angkat dan lempar lagi sesuai panjang arus. dan luar biasa, baru beberapa kali ia lakukan trik terebut tiba tiba ia hentak jorannya, lalu fight pun terjadi, tak lama ia berhasil mengangkat ikan tersebut dan masuk kedalam kepis (tempat ikan) yang di ikat di pinggangnya.

Berbagi lokasi mancing dengan penggemar rafting mania

Dengan rasa penasaran saya memanggil orang tersebut untuk sekedar mengajak ngopi dan ngobrol seputaran trik mancing yang barusan ia pertontonkan kepada saya dan kawan kawan. Namanya mang Eman, rupanya orang inilah yang tadi pagi di ceritakan mang Deni, apabila kami mau bertanya spot yang bagus carilah orang bernama Eman, nanti siang pasti ketemu, dan benar saja prediksi mang deni. Mang Eman sangat baik dan bercerita kepada saya bahwa ikan yang di pancingnya ialah ikan Genggehek dalam sebutan masyarakat sana (mystacoleucus marginastus) ikan putih bersisik halus ini cukup banyak menghuni sungai cisadane, dan mang Eman salah satu masternya untuk ikan tersebut, di kepisnya terdapat sekitar 15 ekor ikan genggehek berbagai size. dengan umpan lumut batu dan kail yang sangat kecil ia kerap kali sukses mendapatkan buruannya. Satu hal yang paling Istimewa dari mang eman ialah bahwa ia tidak pernah bawa pulang ikan ikan hasil mancingnya, ikan tersebut selalu ia berikan kepada siapa saja yang ia temui, dengan atau tanpa imbalan ia sukarela asal ikan itu di manfaatkan oleh penerima. dan kali ini ikan di kepis mang eman tidak luput jatuh ke tangan saya dan kawan kawan. sumpah, rasa ikan ini sangat enak sekali, gurih dan agak sedikit manis saya jamin anda pasti ketagihan. terima kasih mang eman, semoga sehat selalu, tetap dermawan dan tetap berhati hati yah. *adf

Comments

comments

Comments are closed.