Koes Ploes “Kolam Susu” Saat Trip ke Labuan Bajo – Pulau Komodo

IMG_2806

“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupmu. Tiada topan tiada badai  kau temui, ikan dan udang cukup menghidupmu”.

Lagu Koes Ploes ini cukup sangat nyata ketika kami melakukan trip perjalanan ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo . Ketika kami sedang pergi ke daerah Labuan Bajo Flores  dan tinggal di perkampungan nelayan. Di sana kami sempatkan mancing dipinggir pantai. Saat pagi itu ada seorang nelayan tua  mengeluarkan jukung kapal sebelah yang sengaja di labuhkan ke pinggir pantai berpasir bersih.

Sebelum melaut bapak tua itu sempat ngobrol santai sama saya.  Kami terlibat percakapan singkat dengan mereka. Ia bercerita untuk mancing ikan-ikan  tidaklah harus pergi jauh. “Saya hanya mancing di depan saja.  Di pantai Labuan bajo ini masih terjaga ekosistemnya sehingga banyak ikannya. Biasanya saya mancing sampai siang hari saja lalu pulang makan siang sambil bawa ikan pancingan,” tutur nelayan tua itu kepada saya. “Oke pak selamat melaut semoga dapat ikan banyak. Nanti siang saya tunggu hasilnya,” kata saya kepada nelayan tua itu.

Pak tua itu langsung mendorong jukungnya menuju ke tengah. Saya melihatnya  mengendari jukung dengan lihai.  Saya bisa menyaksikan di tepi pantai Pak Tua itu sampai di titik spot yang pertama. Ia kemudian mengeluarkan piranti mancingnya dan mulai mengail.  Saya bisa melihat dia karena jarak ke pantai dengan jukung tidaklah terlalu jauh. Nampaknya Pak Tua mulai menikmati tarikan ikan-ikan yang dipancingnya. Saya yang ada dipantai di teras hotel Prima Labuan bajo bisa merasakan suka cita.

Jam 10 pagi saya menghentikan aksi mancing di pinggir pantai dan saya pun jalan kaki kembali ke hotel Prima tempat saya menginap. Kemudian saya melakukan aktifitas menulis naskah berita mancing di gazebo dekat pantai. Sengaja aku memilih gazebo paling luar yang berada di pantai Labuan bajo dengan tujuan menunggu bapak nelayan tua itu.

Menjelang makan siang sekitar jam 11 siang, saya melihat Pak Tua sudah menuju ke pantai. Perahu jukung membelah pantai dan sandar dipantai. Sayapun segera menghampiri bapak nelayan tua itu. “Siang bapa gimana hasil melaut saat ini,” tanya saya kepada nelayan tua. “Puji Tuhan. Hasil cukup bagus. Lihat pak,” kata nelayan tua menunjukan  ikan kepada kami.

Ikan hasil tangkapan itu kemudian di ikat dengan pelepas kulit pisang secara  dua-dua. Ikan kurisi ukuran 5 jari orang dewasa ada dikumpulkan tersendiri. Untuk ikan lencam babi kumpulkan sendiri. Setelah selesai diikat dua-dua, pak Tua itu segera segera menggantungnya dalam bamboo. “Sambil pulang ikan ini saya jual ke hotel-hotel sekitar sini. Biasanya pengunjung hotel membelinya satu ikat dua ikan seharga Rp. 20.000 saja. “saya beli 3 ikat ya pak,” kata saya kepada Nelayan tua itu. Senyum bahagia ia memberi 3 ikat kepada saya.

IMG_2825

Sambil melangkah pulang, Bapak Nelayan Tua itu  membawa ikan dengan cara memikul dalam bamboo. Ia melewati hotel tempat saya menginap. Saya lihat beberapa tamu hotel membeli ikan yang pancingnya. Senyum bapak nelayan tua itu merupakan senyum nelayan Indonesia yang memiliki lautan bak kolam susu seperti di lagunya Koes Plus. Ikan dari Pak Nelayan saya serahkan ke koki hotel untuk dibersihkan dan dimasak sesuai selera saya. Menjelang jam satu siang kami dan kawan-kawan makan ikan hasil nelayan tua itu dengan penuh suka cita. Sambil makan angan saya mengucapka syukur masih menemukan hal ini, sebab tempat saya di Jakarta tak mungkin ada pemandangan ini.***

Comments

comments

Comments are closed.